0
Dikirim pada 02 Oktober 2010 di Sosial Keagamaan

Jajanan Anakj merupakan hal yang perlu diperhatikan oleh para orang tua.Makanan ringan saat ini banyak yang mengandung bahan pengawet dan bahan pewarna yang berbahaya bagi kesehatan anak.


Di sekolah a nak -anak yang jajan di warung maupun di penjual makanan tidak bisa terkontrol.Setiap istirahat anak-anak langsung lari ke warung jajanan untuk membeli makanan kecil.Bapak Ibu guru pun sulit mendeteksi apa saja yang dibeli para siswanya.




gambar_anak_jajan


BAHAN pengawet berbahaya, formalin, dan boraks tentunya tidak asing lagi di telinga kita. Formalin yang sering digunakan untuk mengawetkan mayat banyak digunakan pedagang kecil untuk mengawet dan mengenyalkan bahan makanan. Begitu juga dengan boraks yang biasa digunakan untuk mengawetkan kayu, saat ini banyak ditemui terkandung dalam mi basah, lontong, bakso, pempek, cincau hitam, dan kerupuk udang.


“Biasanya pedagang menggunakan boraks sebagai pengenyal makanan. Kalau Anda menemukan lontong, cincau atau bakso yang kenyal, hati-hati, biasanya ada kandungan boraksnya,” kata Agus.


Jajanan lontong dan bakso sudah menjadi favorit di kalangan anak-anak dan remaja. Dalam jumlah kecil, boraks bisa menyebabkan gangguan saluran pencernaan (diare, kejang perut), ginjal, hati dan kulit. Efek kumulatif dapat menyebabkan gangguan saraf pusat dan depresi.



Tidak hanya boraks, formalin, pewarna tekstil, rhodamin, juga kerap dijadikan pewarna pada makanan anak-anak, seperti kembang gula merah. Rhodamin juga digunakan sebagai pewarna merah pada kerupuk, terasi udang, cendol, dan biji delima.


“Rhodamin ini tidak larut dalam air. Jadi Anda bisa mengetahui dengan mudah, apakah bahan makanan itu diberi pewarna rhodamin. Celupkan ke air, kalau warnanya tidak luntur, berarti itu pewarna rhodamin,” ujarnya. Efek kronis dari rhodamin dan formalin bisa menyebabkan kerusakan hati, jantung, otak, dan kanker.



MASALAH keracunan makanan tampaknya sudah langganan di Indonesia. Hampir setiap tahun kasus keracunan selalu ada dan angka kejadiannya pun cukup tinggi. Dan, dari seluruh kasus keracunan makanan yang ada, semua bersumber pada pengolahan makanan tidak higienis. Ironisnya makanan tidak higienis ini banyak dijual di kantin sekolah.


Masalah keamanan pangan, menurut Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Sampurno, menjadi isu strategis saat ini.


“Industri rumah tangga di bidang pangan (IRTP) berjumlah lebih dari 500 ribu unit yang tersebar di seluruh Indonesia. Namun, pada saat yang sama IRTP juga mempunyai potensi kerawanan keamanan pangan terutama dalam kebersihan sarana, pemilihan bahan, proses pengolahan, dan monitoring mutu produk di peredaran,” jelasnya.


Demikian juga makanan jajanan (street food) dan jajanan anak sekolah, kata Sampurno, perlu mendapat perhatian serius dan konsisten dari semua pihak.


“Terutama adanya fenomena penggunaan bahan-bahan kimia yang dilarang dalam makanan. Perlu dilakukan pembinaan yang lebih intensif kepada IRTP dan pembuat makanan jajanan terhadap pemasok bahan kimia.”


Menurutnya, sumber terbesar keracunan makanan yang terjadi di Indonesia berada pada usaha jasa boga atau katering untuk karyawan maupun jajanan anak sekolah.


“Pembinaan dan pengawasan usaha jasa boga dan jajanan anak sekolah ini ada pada Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Meski demikian, lanjutnya, Badan POM tetap melakukan proaktif menjalin kerja sama dengan mitra terkait.


“Berdasarkan hasil pengujian laboratorium Badan POM sebagian besar kasus keracunan makanan akibat makanan telah terkontaminasi mikroba patogen Staphyllococcus areus.”


Hal ini mengindikasikan adanya masalah kebersihan dan proses memasak makanan yang tidak higienis. Sedangkan dari uji sampling jajanan sekolah dari Banda Aceh sampai Jayapura ditemukan makanan mengandung formalin dan boraks pada bakso dan mi untuk pengenyal dan pengawet serta Rhodamin B pada sirup es mambo atau pewarna merah pada es.


Seperti diketahui, Rhodamin B biasa digunakan untuk pewarna tekstil dan masuk ke dalam golongan pewarna yang dilarang digunakan untuk makanan. Demikian juga produk jajanan mengandung mikroba salmonela yang menyebabkan tifus.


Sehubungan dengan hal itu Badan POM telah menyampaikan pedoman pemberian pangan untuk konsumsi anak sekolah kepada gubernur di seluruh Indonesia.


Sedangkan industri makanan di dalam negeri dengan teknologi modern juga tumbuh pesat dengan dukungan basis sumber daya nasional. “Untuk bersaing di pasar ekspor, aspek mutu dan keamanan produk harus dijaga konsisten untuk selalu memenuhi standar internasional terkini.”


Sering kali anak-anak tertarik dengan jajanan sekolah karena warnanya yang menarik, rasanya yang menggugah selera, dan harganya terjangkau. Makanan ringan, sirup, bakso, mi ayam dan sebagainya menjadi makanan jajanan sehari-hari di sekolah. Bahkan tak terbendung lagi berapa uang jajan dihabiskan untuk membeli makanan yang kurang memenuhi standar gizi ini.


Menurut Ketua Patpi (Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan Indonesia) Cabang DKI Jaya DR Ir RD Esti Widjajanti, makanan semakin enak biasanya ditambah dengan bahan tambahan makanan (BTM). “Produsen makanan rumah tangga akan berusaha menampilkan makanan semenarik mungkin baik dari penampakan, aroma, dan tekstur. Akan tetapi, acap kali faktor gizi, higienis dan keamanan pangan justru diabaikan.”


Faktanya produksi pangan olahan untuk tujuan komersial penggunaan bahan tambahan kimia sebagai bahan pengawet tidak mungkin dihindari, terutama industri makanan rumah tangga.


Tujuan penggunaan bahan pengawet ini adalah untuk menghambat atau menghentikan aktivitas mikroba (bakteri, kapang, khamir). “Akhir tujuannya dapat meningkatkan daya simpan suatu produk olahan, meningkatkan cita rasa, warna, menstabilkan, memperbaiki tekstur, sebagai zat pengental/penstabil, antilengket, mencegah perubahan warna, memperkaya vitamin, mineral, dan sebagainya.”


Menurutnya, pemberian bahan tambahan tersebut tidak merusak nilai gizi makanan itu, asalkan tidak kedaluwarsa. Biasanya kalau masa kedaluwarsanya sudah ditentukan, maka empat bulan menjelang kedaluwarsa makanan itu mengalami perubahan.


Penggunaan zat pengawet sebaiknya dengan dosis di bawah ambang batas yang telah ditentukan. Jenis zat pengawet ada dua, yaitu GRAS (Generally Recognized as Safe), zat ini aman dan tidak berefek toksik, misalnya garam, gula, lada, dan asam cuka.


Demikian juga dengan pemanis buatan, seperti aspartam jauh lebih disukai produsen karena hanya satu tetes saja, kata Esti, sudah cukup manis dibandingkan gula asli dari tebu.Sedangkan penguat rasa MSG, lanjutnya, kalau di luar negeri dipakai penguat rasa dari tumbuhan. Harganya memang mahal dibandingkan MSG hasil fermentasi, seperti yang dipakai di Indonesia. “Tentu saja masyarakat harus hati-hati mengonsumsi makanan dan minuman yang masih rendah keamanannya. Jangankan jajanan sekolah, pembuatan tempe saja sekarang ini masih kurang higienis, khususnya sanitasinya. Bagaimana tempe kita bisa diekspor,” kata Esti yang juga Kepala Bidang Teknologi Pangan dan Nutrisi BPPT ini.


Harapan kita kepada bapak Ibu yang mempunyai anak seusia TK dan SD untuk lebih berhati-hati terhadap makanan jajanan khususnya jajanan di sekolah .Akan lebih baik bila bapak ibu memberi bekal makanan dari rumah yang lebih terdeteksi bahan dan cara pengolahannya. Semoga Alloh melindungi kita Amien.






Dikirim pada 02 Oktober 2010 di Sosial Keagamaan
comments powered by Disqus
Profile

AKU SEORANG PENDIDIK YANG LAHIR DI GUNUNGKIDUL.MENGAJAR DI SEKOLAH SWASTA DENGAN BERBAGAI SUKA DAN KENANGAN INDAH More About me

Page
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 248.276 kali


connect with ABATASA